Paham Radikalisme Menyasar Generasi Muda Pengguna Media Sosial

Paham Radikalisme Menyasar Generasi Muda yang Menggunakan Media Sosial
Staf Ahli Bidang Pemerintahan dan Politik Pemkab Tanah Datar, Erizanur, saat pembukaan kegiatan.

Tanah Datar, Kurenah.com – Paham radikalisme saat ini menyasar generasi muda, baik melalui handphone maupun media sosial.

Demikian dikatakan Staf Ahli Bidang Pemerintahan dan Politik Pemkab Tanah Datar, Erizanur, saat membuka Kenduri Desa Damai, di pelosok nagari di Sumatera Barat, Batipuah Ateh, Rabu (13/9/2023).

Acara dipusatkan di aula Kerapatan Adat Nagari (KAN) Batipuah Ateh, Tanah Datar.

Erizanur, menilai pemilihan lokasi di nagari yang jauh dari kota sebagai langkah FKPT (Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme) Sumbar bersama BNPT (Badan Nasional Penanggulangan Terorisme) untuk menggali kearifan lokal setempat.

Dalam kokohnya kearifan lokal itulah disampaikan pesan-pesan agar tetap menjaga keutuhan masyarakat, terbebas dari paparan radikalisme.

Staf Ahli Bupati ini juga memahami dalam kondisi dunia yang mengglobal sekarang, paham radikalisme tidak lagi dibatasi wilayah atau harus lewat tatap muka, tetapi melalui handphone di media sosialnya.

“Jadi kearifan budaya lokal Batipuah Ateh yang didasari agama yang kuat, selayaknya ditambah dengan pencerahan oleh narasumber nasional dan daerah tentang hidup damai tapi tetap waspada,” jelasnya.

Sementara itu, Kasubdit Pengawasan BNPT, Kolonel (Marinir) Edy Cahyanto, mengatakan, penyebaran paham radikalisme menggunakan geostrategi, membaca lingkungan.

Baca Juga  Komisioner KPI RI Amin Sabana Kunjungi Tanah Datar

Ada lagi cara dengan menggandeng bandar narkoba untuk pemggalangan dana. Namun sekarang yang terbanyak penyebaran aliran, paham (isme) itu melalui media sosial karena setiap orang sudah menggunakan handphone, sebutnya.

Kita di desa atau nagari perlu mengingatkan generasi muda agar tidak mudah percaya pada konten-konten yang mengarah pada penyebaran isme yang seolah-olah membawa kebenaran, padahal informasi itu hoaks.

Edy Cahyanto, menilai Sumatera Barat dengan kearifan lokal nagari-nagari patut bersyukur karena adat dan budayanya bersumber dari kitabullah agama Islam.

Narasumber daerah, Muhammad Taufik yang juga dosen UIN Imam Bonjol Padang, menyatakan kebebasan terbesar masyarakat Minang adalah dalam menghargai perbedaan pandangan dan sikap. “Berbeda tapi tetap satu, hidup saling menghormati sikap kritis dan pandangan sudah terbentuk sejak dahulu,” ujarnya.

Kepada generasi muda yang sebagian besar menggunakan media sosial, Taufik mengingatkan agar pandai-pandai memilah fatwa yang tidak berdasar ilmu agama yang benar. “Sebab tafsir agama itu banyak sekali dan bisa diselewengkan untuk memecah belah masyarakat,” Muhammad Taufik.

Dalam pertemuan yang melibatkan ninik mamak, pemuka masyarakat, bundo kanduang, generasi muda, unsur KAN dan perangkat Kenagarian di kecamatan Batipuah Ateh, peserta juga diajak berdiskusi kelompok, menampilkan materi diskusi dan permainan cerdas cermat yang dipandu Swastika Nohara, akademisi dan praktisi film.

Baca Juga  Melibatkan Hajat Hidup Orang Banyak, Sensus Pertanian 2023 Dianggap Strategis

Ketua FKPT Sumbar, Adil Mubarak, menyatakan bangga dengan acara Kenduri Desa Damai, sebagai upaya mengajak mansyarakat mengenali diri dan lingkungan di nagari dan jorong yang ada di Sumbar.

Dengan mengedepankan kearifan lokal, disuguhi makan bajamba, acara terasa menjadi milik KAN bersama warga setempat. Makan beradat itu menghadirkan keakraban, saling belajar dan memahami tradisi setempat.

“Kekuatan budaya lokal semoga dapat ditularkan kepada generasi muda di Batipuah Ateh,” harap Adil. (rel)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *