Warga Sijunjung Disekap dan Disiksa di Myanmar, Ini Curahan Hati Sang Ibu

Warga Sijunjung Disekap dan Disiksa di Myanmar, Ini Curahan Hati Sang Ibu
Dewi Murni perlihatkan wajah anaknya.

Sijunjung, Kurenah.com – Sekitar 20 warga negara Indonesia disekap di Myanmar. Dari 20 warga itu, satu berasal dari Jorong Tanjung Beringin, Nagari Tanjung, Kecamatan Koto VII, Kabupaten Sijunjung, Sumatera Barat.

Gubernur Sumbar dan Bupati Sijunjung ditunggu gebrakannya dalam memulangkan warga tersebut.

Pihak keluarga sedih dan meminta Pemerintah Indonesia untuk memulangkan kembali ke Tanah Air. Sebelumnya, viral video di akun Instagram @bebaskankami tentang kondisi terkini warga yang disekap tersebut.

Warga Sijunjung yang disekap itu adalah Muhammad Husni Sabil (28). Menurut Dewi Murni (ibu M Husni Sabil), Kamis (4/5/2023) menyebutkan, anaknya sudah dua tahun merantau ke Jakarta, sebelum berangkat izin berangkat bekerja ke Thailand.

Selama merantau di Jakarta, anaknya bekerja serabutan, dan terakhir berprofesi sebagai figuran dalam sebuah sinetron.

Kemudian Muhammad Husni mendapatkan tawaran dari temannya untuk bekerja di luar negeri dengan gaji yang lebih menjanjikan ketimbang menjadi pemain figuran.

“Saat itu, anak saya dijanjikan untuk menerima gaji Rp12 juta perbulan, dengan jumlah segitu, tentu ia tertarik,” ujar Dewi.

Baca Juga  Nasi Padang Hingga Energi, Wagub Sumbar Jajaki Kerjasama dengan Norwegia

Semua biaya pengurusan dokumen, paspor dan biaya keberangkatan ke luar negeri tersebut ditanggung perusahaan yang menawarkan pekerjaan tersebut.

“Sabil minta izin kepada saya untuk pergi ke Thailand itu,” tuturnya sambil meneteskan air mata.

Dewi menyebut, Sabil awalnya meminta izin kepada keluarga untuk berkerja sebagai pemain figuran di Thailand.

Pihak keluarga sudah mencoba melarang Sabil untuk pergi bekerja ke luar negeri, tetapi karena gaji yang dijanjikan terbilang banyak, dan sabil juga membawa harapan untuk mengubah nasib keluarga, Sabil tetap berangkat.

Ibunya menjelaskan, Sabil berangkat menuju Thailand pada 24 November 2022, bersama dengan dua temannya. Saat sudah sampai di sana, Sabil mengatakan kepada ibunyasaya, kalau dia tidak berada di Thailand melainkan dibawa ke Myanmar.

Selain itu, Sabil juga mengatakan, ia tidak bekerja sebagai figuran, melainkan sebagai tenaga komputer di sebuah perusahaan. Pada bulan pertama, Sabil memang mendapatkan gaji, tetapi jauh beda dengan yang dijanjikan, yaitu Rp6 juta pada bulan pertama.

Selanjutnya, pada bulan kedua bekerja, Sabil hanya mendapatkan gaji sekitar Rp3 jutaan. “Pada bulan pertama Sabil sempat mengirimkan uang sekira Rp4 jutaan dan pada bulan kedua Rp2 jutaan,” terang Dewi.

Baca Juga  Putin Berikan Apresiasi kepada Wagner Group atas Penghentian Pemberontakan

Pada awal bekerja, Dewi rutin berkomunikasi dengan Sabil, satu kali seminggu via video call. “Itupun ada jadwalnya dan diawasi saat video call dari jam 1 sampai jam 3 siang, harus dia dulu yang menelepon, kalau kita yang menelepon tidak bisa,” kata Dewi.

Dikatakan, pada bulan ketiga Sabil mengaku tidak lagi mendapatkan gaji. “Pada bulan ketiga, Sabil tidak lagi mendapatkan gaji, melainkan mendapatkan penyiksaan jika tidak mencapai target dalam bekerja,” katanya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *