Populasi Burung Murai Kampung Terancam Punah, Warga Terus Menangkapnya

Populasi Burung Murai Kampung Terancam Punah, Warga Terus Menangkapnya
Murai Kampung.

Painan, Kurenah.com – Burung murai kampung berwarna hitam putih yang hidup di alam liar terus mengalami penurunan drastis akhir-akhir ini di kabupaten Pesisir selatan.

Bahkan burung penghuni kampung ini kini sulit terlihat. Penurunan populasi murai disebabkan tingginya aktivitas penangkapan dihampir semua wilayah Pesisir Selatan.

Selain dengan cara dipikat, penangkapan burung murai dilakukan dengan memungut anak yang baru menetas. Aksi penangkapan burung murai terjadi akibat tingginya harga murai kampung tersebut di pasaran.

Satu ekor murai oleh toke dibeli seharga Rp150 hingga Rp300 ribu, sementara dari toke ke konsumen bisa laku dijual Rp400-500 ribu per ekor.

Tergantung kondisi murai, bila sudah mau memakan mamanan pabrikasi dan suaranya bagus, maka harganya akan naik,” kata Ibel (25) warga Balai Selasa yang kesehariannya banyak dihabiskan untuk menangkap burung murai.

Ia mengaku bila nasib mujur, dalam satu hari bisa menangkap sekitar dua hingga tiga ekor burung murai, memang jauh turun dibandingkan tahun tahun sebelumnya. “Yah, tapi lumayanlah buat kebutuhan sehari-hari,” katanya.

Baca Juga  Lisda Hendrajoni Serahkan Bantuan Rp315 Juta untuk Pembangunan Panti Asuhan Muhammadiyah Pessel

Hingga kini menurutnya, tidak ada larangan menangkap burung murai. Selain Ibel, ia mengaku masih mengenal banyak lagi masyarakat yang bekerja sebagai tukang tangkap burung murai di Pesisir Selatan.

Faktor pendorong tingginya angka penangkapan burung menurutnya, selain harga tinggi, maka memelihara burung tampaknya telah menjadi gaya hidup kelas ekonomi mengegah ke atas.

Meski tidak bisa d hitung populasi murai yang tersisa di Pessel, setidaknya masyarakat menyadari burung murai kini populasinya sudah turun drastis dan diambang punah. Bahkan semenjak enam tahun belakang, akibat terjadinya penngkapan murai oleh masyarkat, murai sudah sulit terlihat.

Biasanya bila pagi atau sore hari burung murai selalu berkicau di sekitar kampung kami, namun kini kami tidak mendengar lagi kicauan burung yang merdu suaranya itu,” ujar firdaus (43) warga Taluak Limpaso.

Baca Juga  Taruna Akmil, Akpol dan Praja IPDN Terkesan di 'Negeri Sejuta Pesona'

Menurutnya, saat ia masih muda, ada kearifan lokal untuk menjaga populasi murai. “Misalnya dengan melarang menangkap murai, bila ditangkap maka tangan akan diserang kudis. Namun itu kini tampaknya tidak mempan lagi, masyarakat sekarang sudah pintar. (baron)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *